Desa Wisata Apau Ping Kecamatan Bahau hulu

desa-wisata-apau-ping-kecamatan-bahau-hulu

Malinau - Perjalan menuju Desa Apau Ping Kecamatan Bahau Hulu ditempuh dengan rute yang lumayan jauh. Dari kota Tarakan menuju Malinau bisa menggunakan 2 rute yaitu melalui udara dan laut. Jika melalui udara dapat menggunakan pesawat Kal Star, Susi Air dan MAF dengan jarak tempuh sekitar 30 menit. Sedangkan jika lewat laut atau sungai menggunakan speedboat dengan jarak tempuh sekitar 3-4 jam. Setelah tiba (dari Tarakan) di Malinau, harus bermalam dahulu. Di Malinau banyak menyediakan penginapan dan Hotel (kelas Melati). Keesokan harinya baru melanjutkan perjalanan menuju Long Alango, Kecamatan Bahau Hulu. Perjalanan dari ibukota Malinau menuju kecamatan Bahau Hulu ada dua jalur yang bisa ditempuh, yaitu pertama dengan naik pesawat udara kapasitas 6 orang dengan jarak tempuh sekitar 1,5 jam itupun satu minggu sekali dan tidak ada jadwal secara rutin dan kedua melalui jalur sungai naik long boat selama 3-4 hari dengan melewati jiram-jiram yang berat dan menantang. Kecamatan Bahau Hulu terdiri dari 6 desa dan salah satunya adalah desa terluar yaitu Apau Ping. Untuk menuju desa Apau Ping butuh waktu 1 hari dari ibukota kecamatan dengan naik “ ketinting (perahu tempel) “

Secara umum, suku yang tinggal di Desa Apau Ping, cukup beragam, namun semua dalam satu garis suku asli Kalimantan, yaitu Dayak. Sub Suku Dayak yang menetap disekitar wilayah Taman Nasional Kayan Mentarang, terutama di Desa Apau Ping adalah Suku Dayak Kenya Lepo’ Ke. Hampir sebagian besar masyarakat Apau Ping menggantungkan kebutuhan hidupnya pada hutan. Bagi mereka hutan merupakan ‘ibu’ yang mampu memberikan segalanya. Hutan merupakan sumber kebutuhan pokok dan bergeraknya ekonomi masyarakat.

Apau Ping sangat eksotis dengan pemandangan alamnya yang tersaji istimewa. Banyak hal yang pasti bisa dijumpai di Apau Ping. Salah satunya adalah padang rumput savanna Long Tua. Yang berjarak sekira 1 jam dari Desa Apau Ping.

Long Tua merupakan padang rumput yang luas dan menjadi habitat Banteng Borneo, yang keberadaannya langka dan hampir punah. Pada jam-jam tertentu kita bisa melihat Banteng tersebut, walaupun dari kejauhan. Pagi hari, sekira pukul lima hingga enam pagi, kumpulan Banteng tersebut ada disekitar padang rumput untuk menikmati umbut-umbut yang menjadi makanan Bos Javanicus tersebut. Sedangkan disore hari, sekira pukul lima hingga terbenammnya matahari, kita bisa menyaksikan sekumpulan Banteng, Rusa hingga Kancil tengah bercengkrama mesra menunggu rembulan tiba.

Sumber data : http://www.kompasiana.com/fiter.antung/apau-ping-jamrud-khatulistiwa-yang-menggoda_54f920d5a33311ba078b46b4

sumber : humas.malinau.co.id

Tags : Malinau
menu
menu