Indeks Minat Baca di Indonesia Itu 0,001

indeks-minat-baca-di-indonesia-itu-0-001

MALINAU- Kasi peningkatan Kualifaikasi dan komptensi Direktorat Tenaga Didik, Dit GTK  Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan  (Kemendikbud) RI Yudi Herman melihat, sebetulnya  pendidikan di Indonesia ini bukan tanggung jawab pemerintah semata.

Tapi jadi tanggung jawab semua pihak. Sebab, diakui memang problem pendidikan ini dinilai sangat besar. Jumlah sekolah di Indonesia ini kurang lebih 258 ribu untuk semua jenjang.  “Kurang lebih 100 ribu adalah jenjang sekolah dasar yang tersebar di seluruh Indonesia dengan berbagai macam problematikanya,” sebut Yudi Herman dalam lokakarya penyusunan perencanaan proram inovasi tahun 2017 di ruang Laga Feratu, Kantor Bupati Malinau, kemarin.

Dengan program inovasi ini, sambung Yudi Herman,  pada 4 Agustus lalu rapat di Jakarta bahwa pengembangan inovasi yang awalnya di NTB kemudian disepakati bersama oleh Kemendikbud dan Kedutaan Pemerintah Australia diperluas tiga provinsi lain. Salah satunya di Kalimanatan Utara ini dan waktu itu ada amanah agar dapat menjalanakn program inovas ini dengan cepat. Karena dalam dua tahun itu cepat sekali dan dikatakan tahun 2020 selesai.Tetapi sudah dirasakan bahwa tahun 2017 ini sudah mau selesai.

Untuk itu, tentunya program inovasi terutama di Kaltara di Kabupaten Malinau, perlu dukungan semua pihak. Karena Indonesia termasuk negara organisasi kerjasama ekonomi dan pembangunan  dan melakukan penilaian terkait penilaian 3 tahunan yang dimulai tahun 2012. Salah salah satuny adalah hasil bisa bacanya di Indonesia dalam urutan 57 dari 65 negara. Kemudian angka yang lain dipublikasikan oleh UNESCO bahwa indeks  minat baca di Indonesia itu 0,001. Itu artinya, setiap seribu penduduk hanya satu yang memiliki minat baca.

“Jadi kalau ada 250 juta orang, berarti hanya 250 ribu orang di Indonesia yang minat baca dan ternyata yang disurvei itu bukan anak-anak melainkan orang dewasa,” terang Yudi Herman.

Karena itu, Menurut Yudi Herman, jika hasilnya survei 0,001 bisa dibayangkan bagaimana dulu ketika anak-anak pertanyaan selanjutnya apakah generasi ke depan seperti itu ,memberikan hasil survei bahwa angka dewasa di Indonesia 65,5 persen. Sementara Malaysia, dalam surveinya 84 persen. Indonesia memulainya dari sekolah dasar, karena disitulah dibangun minat baca, interaksi kemampuan dan sebagainya..termasuk juga membangun kompetensi.

Survei terakhir mengatakan bahwa  alasan minat baca rendah karena dari survei yang menunjukkan waktu yang digunakan untuk menonton baik itu teve, selular dan lain sebagainya.di Indonesa itu mencapai 300 jam. Sedangkan di negara lain hanya 64 jam. “Di Indonesa itu lebih senang menonton bisa mengevaluasi dirumah kita masing-masing. Itu  bisa banyak membaca buku dari pada menonton televise,” ungkap Yudi Herman.

Menurut Yudi Herman, ini adalah informasi dan inovasi. Inovasi perlu datang di sini dan hasil survei yang tahun 2012 dan 2015 dalam dua kali survei itu merupakan survei sains. Hasil survei peningkatanaan di Indonesa itu cukup baik. Jika di tahun 2012 itu 388 poin, maka 2015 itu 403 poin sains. Dari 377 poin itu menjadi 386 poin. Tetapi untuk membaca yang sangat memprihatinkan dari 396 poin menjadi 397 poin ditahun 2015. Hal ini naik satu poin untuk membaca. Sementara sains dan matematika cukup baik. “Peningkatan poinnya  bisa dikatakan survei ini tidak valid atau tidak bisa dibenarkan. Tapi inilah hasil yang dipublikasikan oleh dunia ,terhadap 72 Negara. Salahsatunya Indonesia,” tegasnya.

Dikatakan, dalam survei secara internasonal untuk Indonesia sekarang apa yang dilakukan dalamn Kementerian Pendidikan salah satunya ada uji kompetensi guru tahun 2015. Ada dua yang diujikan ada profesional, bagaimana menyampaiakn materi dan metode pembelajaran. Maka inovasi hadir untuk bagaimana cara guru mengajar, melalaui konteks lokal dan masalah local .”Lalu apakah guru yang bermasalah? Tidak, tetapi kalau diketahui hasil uji kompetensi kepala sekolah hasil UKKS 4 dimensi yang diujikan ,persamaan, supervisi, kemudian managerial,yang rendah dari itu adalah supervisi,”  terangnya.

Kata dia, salahsatu kontribusi rendahnya kualitas pendidikan itu karena kepala sekolah tidak melakukan supervisi di kelas. Bisa jadi, karena kepala sekolahnya tidak pernah melihat gurunya seperti apa cara mengajarnya, bagaimana peran pengawas. Rendahnya pengawas, evaluasi pendidikan,kemudian supervis kepala sekolahnya tidak bagus. “Itu hasil yang bias kita berpikir ,dengan adanya inovasi ini, kita bisa perbaiki pendidikan kita. Apalagi  di sini (Malinau, Red), Gerakan Desa Membangun bisa sinergi, tentu ada dukungan dari masyarakat, apakah juga orangtua membantu disana,” tukasnya.(ida/puu)

sumber : kaltara.prokal.co

Tags : Malinau
menu
menu