Makanan Tradisional Harus Dihidupkan Kembali

makanan-tradisional-harus-dihidupkan-kembali

MALINAU - Bupati Malinau Dr. Yansen TP, M.Si selaku pimpinan daerah sebuah kabupaten yang hutannya masih luas dan virgin sangat berkomitmen untuk menjaga lingkungan.

Malinau juga merupakan kabupaten konservasi yang memiliki 1,3 juta hektare kawasan hutan lindung Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) yang dikenal dengan Heart of Borneo dan Malinau juga merupakan catchment area daerah sekitarnya.

Bentuk komitmen yang dilakukan Pemkab Malinau dalam hal ini Bupati Yansen TP, salah satunya mendukung penuh acara Earth Hour yang dilaksanakan anak-anak muda Malinau melalui komunitas Earth Hour Malinau pada Sabtu (25/3) malam lalu.

Komitmen itu juga terlihat dari hadirnya para pimpinan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (FKPD), Ketua DPRD Malinau Wempi W. Mawa, SE bersama anggota DPRD lainnya, Sekretaris Daerah Drs Hendris Damus, M.Si para Asisten Setkab Malinau dan para kepala Organisasi  Perangkat Daerah (OPD) Kabupaten Malinau.

“Saya memberi apresiasi yang sangat tinggi terhadap pelaksanaa acara ini. Karena itulah juga sebabnya saya mengintruksikan sekda beserta jajaran untuk mendukung acara ini, karena acara ini sangat konteks kepada makna hakiki Kabupaten Malinau sebagai kabupaten konservasi,” ungkapnya.

Dikatakan Yansen, sebagai manusia tentu harus memiliki kesadaran penuh untuk bersikap bagaimana lingkungan yang diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, yang dianugerahkan Tuhan kepada umat manusia, khususnya Kabupaten Malinau tetap terjaga dan lestari.

Diketahui bersama, sebut bupati, Malinau memiliki luas wilayah kurang lebih 39 ribu kilometer persegi dan itu lebih didominasi hutan. Kemudian Malinau  memiliki 1,3 juta hektare hutan virgin yang merupakan kawasan TNKM. Berangkat dari itulah, Malinau berkomitmen untuk tetap menjaga keutuhan dan kelestarian alam bagi umat manusia. Dan itu bukan sekadar untuk Malinau.

“Hal ini penting, saya ingin kita menyadari kenapa Pemkab Malinau mendukung sepenuhnya acara ini dan saya harapkan ke depan tidak sekadar dibuat dalam acara seremonial, tapi bagaimana seluruh masyarakat menyadari bahwa alam yang dianugerahi Tuhan untuk manusia tetap harus terjaga oleh perilaku semuanya.

Sebab itulah, lanjutnya, ia ingin masyarakat menciptakan perilaku konservasi yang mencintai lingkungan dan yang bersikap menjaga lingkungan. Karena menurutnya, lebih baik menjaga sepohon kayu, daripada harus bersusah payah menanam kembali yang butuh proses panjang.

Ditegaskan bupati, komitmen ini harus betul-betul lahir dari hati dan harus menyadari posisi strategis Malinau yang berada pada posisi catchment area atau daerah resapan air untuk pulau Kalimantan. Walupun menurutnya airnya tidak merambah ke Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah, tapi hulu sungai Malinau adalah posisi  sungai yang airnya mengalir ke daerah-daerah ke sekitar di dua provinsi, yaitu Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara.

“Bisa dibayangkan bapak ibu dan saudara-saudara sekalian, kalau kondisi Malinau yang seperti ini pada saatnya rusak, bukan umat manusia saja yang terganggu tapi semua makhluk hidup di sekitar lingkungan juga terganggu,” tutur suami Ny Ping Yansen ini.

Pentingnya lingkungan untuk umat manusia merupakan tanggung jawab bersama. Untuk itu bupati menyebutkan bahwa yang hadir pada acara yang diselenggarakan komunitas anak muda ini menjadi saksi hidup untuk perjalanan Malinau ke depan.  Ia berharap acara ini tidak hanya bertumbuh di kebijakan strategis Pemkab atau hanya sekadar cita-cita, tapi benar-benar menjadi komitmen bersama untuk menciptakan lingkungan yang berkesinambungan untuk hidup manusia.

Dengan komitmen itu, Pemkab Malinau saat ini memiliki  3 program unggulan dan strategis, yaitu program RT Bersih, Beras Daerah (Rasda) dan Wajib Belajar 16 Tahun.

Bupati menegaskan RT Bersih, Rasda dan Wajib Belajar 16 Tahun merupakan kata kunci dalam rangka masyarakat Malinau tetap menjaga tatanan lingkungan Malinau dengan baik.  

Tidak hanya masalah penghematan energi listrik, tapi ada berbagai indikator yang menunjukan bagaimana perilaku oknum yang mengekploitasi  alam berlebihan yang akhirnya merugikan kita semua.

“Dan untuk itulah saya kira kata secukupnya sangat benar dan tepat menjadi simbol dalam rangka menciptakan alam yang berkesinambungan. ‘Secukupnya’. Mari menjaga lingkungan ini tidak sekadar berkata-kata mencintai lingkungan dan sebagainya, tapi marilah menciptakan perilaku nyata untuk bagaimana lingkungan yang dimiliki sangat luar biasa ini tetap terjaga kelestariannya melalui sikap,” pungkasnya. (adv/ags/har)

 

Tags : Malinau
menu
menu